Beranda » Blog » Mengapa Donor Darah Gratis Namun Bayar Untuk Penerima

Mengapa Donor Darah Gratis Namun Bayar Untuk Penerima

4 Februari 2021
Anda berniat berdagang darah?? Hah yakin? Menurut saya itu berarti anda akan berhadapan dengan vampire, iya kalo vampire nya bella swan yang di fil twilight itu, keren kan? Namun tidak untuk yang satu ini, berikut ulasan tentang darah. Heheh serem juga ya.Darah sangat penting di dalam tubuh manusia. Kita kerap bertanya, mengapa donor darah gratis tapi penerimanya justru harus membayar? Kegiatan donor darah di salah satu kawasan kantor di Jakarta. Menurut PMI, Indonesia butuh cadangan darah sekitar 4,6 juta kantong. Akan tetapi, sampai November 2010 lalu, baru tercadangkan sekitar 40 persennya. Kebutuhan yang banyak itu disebabkan oleh kondisi Indonesia sebagai negara yang rentan akan bencana alam.Kebutuhan darah di Indonesia sangatlah tinggi, dimulai dari untuk menolong persalinan, mengobati suatu penyakit, dan juga penanganan ketika terjadi suatu kecelakaan yang korbannya mengalami kekurangan banyak darah. Adanya anggapan miring mengenai transfusi darah yang dilaksanakan oleh Palang Merah Indonesia atau PMI. Salah satunya mengenai mahalnya harga darah yang dibutuhkan per kantongnya.Masalah mengenai mahalnya harga satu kantong darah yang sekarang mencapai Rp. 360.000 per kantong membuat masyarakat bertanya, kenapa mahal sekali untuk membeli satu kantong darah? Dr. Farid selaku selaku Ketua Pengurus Pusat PMI Bidang Kesehatan, Bantuan Sosial, Donor Darah dan Rumah Sakit PMI menegaskan, “Semua darah dari PMI itu gratis gak harus bayar! Tapi, memang ada biaya yang harus di keluarkan, tapi untuk BPD atau biaya pemrosesan dari darah itu sendiri karena tak bisa langsung disalurkan dari pendonor ke penerima bukan buat bayar darahnya,”Proses pengambilan darah dari pendonor memang tidak bisa langsung diberikan kepada penerima, ada tahapan yang harus dilakukan selama enam jam sebelum darah bisa diberikan kepada penerima harus melalui tahap uji kelayakan bebas dari penyakit seperti HIV, Malaria, dan Hepatitis. Juga dilihat kualitas darah yang bisa diberikan kepada penerima. Harga kantong darah yang masih impor pun menjadi salah satu faktor kenapa harga sekantong darah begitu mahal.Yang harus diluruskan disini adalah, setiap biaya yang dikeluarkan ketika membutuhkan darah adalah untuk biaya BPD bukannya harga si darah itu sendiri. Di Indonesia sendiri membutuhkan kantong darah sekitar lima juta pertahunnya dari dua persen jumlah penduduk setiap daerah. Sementara di DKI Jakarta menurut Ketua PMI DKI Jakarta Rini Sutiyoso, Ibu Kota membutuhkan 800 sampai 1.000 kantong darah per harinya.Semoga penjelasan ini bisa memberikan informasi mengapa donor darah gratis tapi penerimanya harus bayar yang selama ini masih cukup membuat bingung masyarakat.PMI Tidak Menjual Darah, Bukan Termasuk Jual-Beli Darah Yang Haram Biaya yang dikeluarkan bagi yang membutuhkan darah adalah biaya pemeliharaan dan pengolahan darah. Bukan statusnya jual beli, jadi hal ini tidak masalah. Berikut kami nukil perkataan direktur PMI pontianak menjelaskan mengenai hal ini,“Darah yang akan ditransfusikan memerlukan pengolahan lebih dulu, sehingga tidak membahayakan penerima darah. Oleh sebab itu, pengolahan darah membutuhkan biaya dan bertujuan mendapatkan darah yang bermutu, aman dan bebas Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) agar siap digunakan untuk transfusi.Adapun biaya yang dibebankan digunakan untuk:
  • -Merekrut atau mencari donor darah sukarela.
  • -Biaya pengadaan kantong darah.
  • -Biaya bahan pakai medis atau non medis.
  • -Biaya pemeriksaan golongan darah dan Haemoglobin/Hb.
  • -Biaya pengadaan reagen uji saring agar terbebas dari IMLTD yang meliputi HIV/AIDS, HBsAg, HCV, dan RPR(sifilis).
  • -Biaya pengadaan reagen untuk uji cocok serasi (metode gel test).
  • -Biaya penggantian alat.
  • -Biaya pemeliharaan alat, sarana dan prasarana.
  • -Biaya penunjang meliputi air, listrik, telepon, dan pemusnahan limbah medik.”
Artikel Terkait
PAXG vs XAUT: Perbedaan, Kelebihan, dan Cara Memilih

PAXG vs XAUT: Perbedaan, Kelebihan, dan Cara Memilih

Emas tertokenisasi makin sering dilirik karena memberi eksposur harga emas tanpa repot menyimpan emas fisik. Dua nama yang paling sering muncul di kategori “emas crypto” adalah PAX Gold (PAXG) dan Tether Gold (XAUT). Keduanya sama-sama mengacu pada emas fisik,...

Risiko Emas Crypto: Spread, Volatilitas, dan Hal yang Perlu Dicek

Risiko Emas Crypto: Spread, Volatilitas, dan Hal yang Perlu Dicek

Emas crypto (emas tertokenisasi) sering terlihat “tenang” karena mengacu pada emas. Namun, begitu masuk ke mekanisme pasar aset digital, muncul risiko-risiko praktis yang wajib dipahami: spread, volatilitas intraday, likuiditas, perbedaan harga antar-pasar, serta...

Apa itu PAXG (PAX Gold): Cara Kerja Token Emas dan Panduannya

Apa itu PAXG (PAX Gold): Cara Kerja Token Emas dan Panduannya

PAX Gold (PAXG) merupakan token emas yang banyak dibahas saat orang mencari “emas crypto” atau “emas tertokenisasi”. Intinya sederhana: PAXG bertujuan menghadirkan eksposur harga emas melalui token blockchain, dengan dukungan emas fisik sebagai aset dasar. Dengan...

Apa itu XAUT (Tether Gold): Cara Kerja Token Emas dan Panduannya

Apa itu XAUT (Tether Gold): Cara Kerja Token Emas dan Panduannya

XAUT (Tether Gold) adalah salah satu token emas yang paling sering muncul saat orang mencari emas tertokenisasi. Konsepnya sederhana: XAUT bertujuan memberi eksposur harga emas lewat token blockchain, dengan dukungan emas fisik sebagai aset dasar. Dengan format token,...

Apa itu Saham Tertokenisasi: Cara Kerja, Issuer, dan Kustodian

Apa itu Saham Tertokenisasi: Cara Kerja, Issuer, dan Kustodian

Saham tertokenisasi (tokenized stocks) adalah representasi aset pasar modal dalam bentuk token blockchain. Token ini dirancang untuk mengikuti pergerakan harga saham acuan (sering disebut “underlying”), sehingga pembaca bisa memperoleh eksposur pergerakan harga saham...

Saham Tertokenisasi vs Saham Biasa: Bedanya untuk Pemula

Saham Tertokenisasi vs Saham Biasa: Bedanya untuk Pemula

Banyak pemula tertarik saham luar negeri, tetapi langsung berhadapan dengan dua jalur yang terdengar mirip namun cara kerjanya berbeda: saham biasa (konvensional) dan saham tertokenisasi (tokenized stocks). Keduanya sama-sama memberi eksposur ke pergerakan harga...