Mengatasi Mata Lelah di Dunia Digital: Pengalaman Seorang Freelance

Hallo pembaca keren, kali ini saya akan bercerita panjang kali lebar kali tinggi tentang proses perjalanan hidup saya hingga di titik ini. Yang tanpa sadar selalu berhasil mewujudkan sesuatu yang awalnya hanya “deretan kemungkinan” menjadi sesuatu yang nyata. dengan semangat belajar otodidak dan selalu terbuka akan segala kemungkinan, tanpa batas.

“Unleash Limitless Possibilities”

Alhamdulillah, saya dikaruniai kemampuan membuat karya seni dari gambar. Sejak kecil hobi saya menggambar, bahkan saya ingat dulu waktu SD ketika saya merasa gugup, penenang saya adalah dengan menggambar diatas kertas. Yah meskipun hasil gambar saya tidak bagus-bagus amat tapi juga tidak terlalu buruk. Yang penting itu menjadi hobi saya yang mengantarkan saya hingga titik ini.

Menjelang kuliah saya dipercaya sebuah ormas untuk membuat cover buletin/majalah mereka dan mengisi rubrik atau halaman khusus untuk cerita bergambar. Waktu itu proses pembuatannya tidak seperti sekarang, hanya menggunakan kertas polos dan pensil. Setelah cukup mendapat apresiasi dari para pembaca yang juga adalah kalangan ormas sendiri, saya pun dipercayai dengan tanggung jawab yang lebih besar, yakni membuat backdrop event-event mereka. Pada masa itu backdrop adalah background yang ada di belakang panggung sebuah event, dan biasanya berupa gambar atau tulisan dari cat minyak atau cat air.

Saya Pun kemudian belajar dari para senior yang sebelumnya ada di bagian itu. Belajar bagaimana menggores kuas, mengukur bidang dan hal-hal lain yang berkaitan. Saat itu saya hanya berpikir bahwa mungkin suatu hari saya akan menjadi seorang pelukis, atau mungkin suatu hari saya akan dapat proyek yang lebih besar. Dan selang beberapa tahun, benar saja, saya berhasil memenangkan trofi lomba gapura tingkat kotamadya dan juga pernah dipercaya membuat backdrop hajatan besar tingkat kecamatan.

Ini merupakan karya backdrop saya yang sempat saya scan dari foto camera film, yang lainnya sudah musnah dimakan waktu.

Dari Kertas ke Digital Screen

Ketika ponsel mulai menjadi tren anak-anak muda pada jaman itu, hobi saya berevolusi ke dunia digital, dengan membuat wallpaper melalui salah satu fitur ponsel. Kalau dipikir-pikir dengan kemajuan teknologi sekarang, hobi baru saya itu seperti ngga masuk akal. Gimana engga, cara menggambarnya agak lain, yakni membuat titik-titik pixel hingga membentuk gambar. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuat gambar sebuah pisau dapur di layar yang tidak lebih dari 4cm persegi. Saat itu tidak ada pikiran untuk kedepannya, hanya sebagai hobi.

Keahlian saya ini bertahan tidak lama, karena saat saya ganti ponsel, hobi tersebut tidak lagi bisa saya lakukan karena tidak adanya fitur.

Gambar hanya ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana tampilan membuat pixel art di ponsel jadul. Gambar dari Twitter

Learning By Reading Sekaligus by Doing

Mungkin karena saya orangnya suka juga bereksplorasi, hobi saya pun berubah lagi manakala saya mulai mengenal dunia komputer. Komputer pertama saya adalah sebuah komputer rakitan dengan budget sekitar 3jt, yang saya rakit sendiri mulai dari motherboard hingga RAM. Sejak saat itu saya mulai meninggalkan hobi menggambar di atas kertas, berganti dengan hobi baru mengulik software-software komputer termasuk software gambar digital.

Kala itu tutorial software hanya ada dalam buku, maka saya cari beberapa buku tentang tutorial corel draw, dan photoshop. Mencari buku yang tepat juga menjadi tantangan tersendiri kala itu, karena banyak sekali buku dengan tema serupa dan judulnya pun aneh-aneh, selalu bombastis, padahal isinya cuma tutorial pake software. Sampai sekarang saya heran, kenapa judulnya gitu, misalnya, “Jadi Master Photoshop Dalam Sehari”, haha, padahal kenyataannya butuh waktu bertahun-tahun untuk kita bisa menjadi handal menggunakan photoshop. Atau, “Cara Kaya Dengan Corel Draw”, wkwk kocak, padahal saat itu belum ada shutterstock, pixelbay atau web-web jualan gambar, terlebih lagi gaji dari seorang pembuat gambar di percetakan saat itu saja masih dibawah UMR. Tentu saja kecuali jika kita adalah editor, dan tentu saja harus lulus S1, tidak serta merta hanya bermodal Corel Draw.

Waktu itu Photoshop lebih saya sukai dibandingkan dengan coreldraw, karena mudahnya melakukan cropping bentuk-bentuk kompleks, mudahnya membuat bentuk dengan pen tool, layer-layer yang membuat kita bisa menggabung gambar dengan mudah. Sementara coreldraw butuh banyak effort hanya untuk memotong gambar membentuk lingkaran, pen tool yang tidak mudah juga dibentuk serta layer yang sulit ditemukan, serta tidak adanya wand tool atau seleksi otomatis.

Karena komputer saya hanya pentium 4 jadi kesabaran saya sangat saya syukuri karena hampir setiap saat memproses. Bahkan ketika menyimpan butuh beberapa menit, terutama menyimpan dalam format TIFF dengan banyak layer. Karena hal itu juga seri Photoshop yang saya gunakan hanya Photoshop 6 selama beberapa tahun.

Setiap hari saya pun mengikuti panduan dari buku yang saya beli ditemani segelas kopi dan mendengarkan Murotal. Seiring berjalannya waktu, saya sudah sama sekali tidak menyentuh pensil dan kertas untuk menggambar, berganti dengan mouse dan keyboard. Saat itu saya berpikir, mungkin suatu hari nanti keahlian ini akan menjadi hidup saya dan saya bisa menghasilkan dengan itu.

Mulai Ke Desain Cetak

Butuh beberapa tahun hingga karya saya diakui orang lain, yaitu saat saya mendapatkan pesanan pertama saya, yakni sebuah pesanan kartu undangan acara keagamaan. Waktu itu saya mencoba untuk membuat thread tentang keahlian saya membuat background atau wallpaper yang bisa juga untuk berbagai keperluan seperti undangan dan lain-lain, di sebuah forum terkemuka Indonesia KASKUS.

Sebenarnya ide untuk menjual keahlian saya lahir dari keinginan saya untuk diakui, seberapa orang menghargai karya saya dan MUNGKIN akan sukses mendapatkan banyak konsumen. Selang beberapa lama, ternyata berhasil, meskipun bukan skala yang besar, namun cukup senang dapat membantu orang lain dengan apa yang saya tekuni sebagai hobi. Terbukti, hanya berangkat dari kata “mungkin”, mungkin saya bisa mendapatkan apresiasi lebih dari orang lain melalui forum tersebut.

 

Hanya desain Cover DVD inilah yang masih tersisa di hardisk saya, salah satu proyek desain saya. Gimana ? Luar biasa jelek bukan?!. Tapi saat itu ini desain yang disukai klien saya dulu.

Evolusi Desain dan Hijrah

Suatu ketika ada tetangga saya yang sedang butuh seorang yang bisa menggunakan corel draw dan kebetulan dia tau kalau saya bisa membuat backdrop plus bisa pakai corel draw. Tanpa babibu, saya pun mendarat di meja kerjanya, mengerjakan beberapa proyek desain kalender dan jam dinding, untuk souvenir beberapa perusahaan terkenal. Dia pun menyukai desain-desain saya.

Sekali lagi saya bersyukur, alhamdulillah saya telah menembus batas saya dan melepaskan kemungkinan tak terbatas hanya dengan hobi menggambar saya, berubah dari seorang tukang lukis backdrop menjadi seorang desainer grafis.

Selang beberapa tahun, terbersit di benak saya untuk pergi ke Bali mengunjungi Bibi saya yang ada di sana, namun bukan hanya untuk silaturahmi namun untuk sekalian ingin mencoba peruntungan di Pulau Dewata. Hanya bermodalkan keahlian photoshop dan corel draw saya mencoba menaruh lamaran kesana kemari, saat itu sedang marak bermunculan website-website baru karena merupakan era dimana internet baru saja booming. Dan peluang dimana saya bisa memanfaatkan keahlian saya adalah pembuatan header website, yang kala itu sedang ngetren menjadi bagian paling penting dari desain website.

Tak butuh waktu lama untuk saya diterima di dua tempat sekaligus, yakni pengrajin kulit yang sedang butuh orang yang bisa photoshop, dan satu lagi perusahaan pembuatan website. Karena faktor letak geografis, meteorologi dan geofisika, hehehe, saya pun akhirnya memilih bekerja pada pengrajin kulit yang tempat kerjanya tak jauh dari rumah Bibi saya.

Ini merupakan desain saya ketika saya bekerja untuk sebuah agen percetakan. Sebuah perubahan yang signifikan bukan ? maaf atas banyaknya watermark, karena dulu ini saya gunakan sebagai portofolio di berbagai media.

Sebuah Revolusi

Di tempat kerja saya yang baru ini, keahlian yang saya gunakan ternyata berbeda, dimana saya diminta untuk mengerjakan salah satu strategi SEO dan hanya 5% menggunakan keahlian foto cropping melalui photoshop.

Mentor saya yang juga adalah bos pengrajin kulit mengajari saya berbagai teknik SEO dari 0. Dengan kesabaran belajar serta semangat dari kata “sopo eruh” (bhs jawa siapa tau) mungkin suatu saat akan bermanfaat dalam hidup saya, saya pun mengikuti dan mengerjakan semua arahan beliau.

Siapa sangka, justeru dari sinilah cikal bakal lahirnya profesi baru dan awal dari keahlian yang mengantarkan saya pada project-project besar yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.

Untuk mendukung pekerjaan saya, Alhamdulillah orang tua yang luar biasa hebat yang melahirkan saya, memberikan saya budget sekitar 4jt untuk membeli sebuah laptop. Meskipun laptop pertama saya tersebut hanya AMD Turion, itu sudah cukup untuk bisa menjalankan software-software andalan seperti Photoshop 6 dan Winning Eleven 6. Dengan laptop inilah saya bisa belajar membangun website sendiri, mempelajari dan mempraktekkan segala hal tentang website mulai dari domain pointing, hosting, FTP dan lain sebagainya. 

Atap rumah Bibi saya menjadi saksi biksu bagaimana saya harus berjuang untuk mendapatkan sinyal ponsel yang saya gunakan sebagai modem, setiap hari, sepulang bekerja.

Setahun setelah bekerja di sana, saya jadi bisa membuat website, mengerti bagaimana mengelola website dan tau cara mengerjakan SEO. Ya, pada episode hidup setelahnya, saya tak hanya menjadi desainer grafis, saya juga menjadi seorang web developer dan menjadi seorang SEO Specialist. Semua berangkat dari melepaskan kemungkinan.

New Skill Unlocked

Karena sudah bisa hampir segala keahlian untuk membuat website, saya pun membeli domain dan hosting pertama saya. Domain tersebut saya buat untuk menjualkan produk-produk kerajinan para pengrajin di Bali. Ribuan dollar telah telah saya dapatkan dari website tersebut, mulai dari periklanan hingga pembeli yang berasal dari US hingga Uni Emirat Arab.

Namun karena saya sudah tidak betah di Bali, saya pun kembali ke Surabaya, dan website tersebut lambat laun tidak terawat, karena saya kemudian bekerja di salah satu perusahaan di Surabaya.

Di perusahaan ini, saya menjadi seorang Webmaster, lagi-lagi profesi baru, namun tidak baru-baru banget karena masih berkaitan dengan develop baik pengembangan maupun pengelolaan website.

Karena saya dianggap cukup kompeten di bidang ini saya pun kemudian dipercaya untuk membangun website Organisasi Pengelasan se-Asia, dengan nilai proyek yang cukup besar.

Tampilan website saya yang pertama, tak kalah jelek sih, tapi dari sini saya bisa menghasilkan ratusan dollar dan proyek bernilai ribuan.

Ini saya ambil dari gambar portofolio saya, karena desain yang asli butuh instalasi lagi. Dan ini merupakan desain proyek besar saya untuk pembuatan website yang pertama, suatu organisasi Asosiasi Pengelasan se-Asia.

Mencoba Yang Lebih Besar

Tahu bahwa pekerjaan saya memuaskan banyak pihak, saya pun terbersit untuk membuka usaha jasa pembuatan website sendiri dan Alhamdulillah banyak klien yang datang. Klien-klien yang datang bukan dari orang-orang yang tau profil saya, melainkan murni dari trafik organik yang berhasil saya kerjakan melalui SEO. Melalui jasa pembuatan website saya mampu membeli laptop kedua dan ketiga saya dengan hasil pekerjaan saya sendiri.

Tidak sampai satu tahun setelahnya, saya buat website lagi dengan konsep blog, tujuannya adalah untuk Google Adsense. Tak sampai satu tahun bagi saya untuk bisa withdraw pendapatan pertama saya. Waktu itu masih mengambil di kantor pos yang tak jauh dari rumah. Dari website ini saya belajar bagaimana mengelola website dengan trafik puluhan ribu sehari. Saya pun belajar lebih dalam tentang berbagai code-code dengan tujuan untuk mengaplikasikan segala ide dan terobosan seputar pengembangan website yang sebenarnya hanya gitu-gitu saja, mengingat konsepnya adalah blog.

Karena saya tidak mampu mengerjakan berbagai blog yang saya kelola dan melayani jasa pembuatan website sekaligus, maka saya pun mengajak teman-teman saya untuk bergabung. Saya sebagai supervisor, sekaligus sebagai eksekutor pengerjaan project website, sementara teman saya yang lain bagian sales dan SEO.

Lagi-lagi saya Unleash Limitless Possibilities, mampu melepaskan kemungkinan tak terbatas dan kini berubah menjadi seorang pimpinan unit usaha saya sendiri.

Penampakan kantor kecil saya dulu, cukup kumuh memang, tapi di ruang inilah para hokage pernah bersimbah peluh.

Neo-Ilustrasi

Episode selanjutnya dalam hidup saya adalah ketika saya mendadak ingin kembali ke dunia menggambar, lantaran teman saya memperkenalkan sebuah website logomyway yang berisi tentang berbagai lomba logo. Hadiahnya pun terbilang cukup lumayan $200 hingga $1000, namun saya mesti belajar dari awal tentang desain-desain vektor melalui corel draw. Alhamdulillahnya, ternyata Adobe Illustrator menjadi lebih familiar dibandingkan dengan Corel Draw, mulailah saya cari versi Adobe Illustrator yang mampu dijalankan dengan baik oleh laptop saya, namun ternyata tidak banyak, hanya Illustrator CS yang sempurna dijalankan, padahal itu adalah versi lama dari Adobe Illustrator.

Alhamdulillah dengan kesabaran belajar dan naluri Unleash Limitless Possibilities, saya berhasil mendapatkan trofi pertama saya, dengan memenangkan peringkat pertama dan kedua lomba desain di logomyway.

pembuatan desain logo
Alhamdulillah dari desain ini saya memenangkan salah satu lomba logo saat itu.

Membebaskan Segala Kemungkinan

Pandemi covid melanda, muncul banyak ketakutan, salah satunya adalah bagaimana jika keahlian saya tidak lagi dibutuhkan orang, mengingat semua orang sedang mengalami krisis. Adsense seolah terkena dampak, pembuatan website juga seolah seret. Mau tak mau saya harus membuka segala kemungkinan dengan mencoba hal-hal baru.

Bidang pertama yang saya coba adalah aplikasi android. Dengan modal seadanya saya membeli script aplikasi android setengah jadi dan belajar memodifikasinya melalui software android studio.  Butuh waktu satu bulan untuk saya berhasil  membuat aplikasi pertama saya dan bisa masuk Google Play Store.

Bidang baru selanjutnya adalah editing video, karena saya punya beberapa video unboxing barang-barang yang pernah saya beli. Bermodalkan Adobe Premiere lagi-lagi versi lama, Alhamdulillah saya bisa membuat beberapa video di channel youtube saya.

Hal baru lainnya adalah peluang lain di bidang website yakni mencoba ikut serta dalam kompetisi SEO dan lomba Blog. Alhamdulillah, saya mampu memenangkan beberapa kompetisi SEO dan lomba blog, bahkan saya memenangkannya di keikutsertaan saya yang pertama. Meskipun bukan menjadi juara utama atau juara satu, saya cukup senang dan sangat bersyukur, Alhamdulillah kemungkinan selalu ada jika kita berusaha.

Butuh Perangkat Yang Mendukung

Seperti yang beberapa kali saya singgung, bahwa saya hanya memakai software-software versi jadul karena keterbatasan kemampuan laptop saya. 

Saat ini keahlian saya sudah bertambah sedemikian rupa, program saya makin beragam, file juga semakin banyak, saya butuh laptop baru yang mendukung. Laptop lama saya yang tidak kompeten ini tampak sudah mulai kualahan dan secara hayati sudah lelah.

Lagipula selama ini saya selalu beli laptop dengan grade yang tanggung, tidak pernah mendekati maksimal dalam memenuhi kebutuhan saya.

Nah pada kesempatan kali ini saya ingin sekalian memetakan laptop seperti apa yang saya butuhkan, berdasarkan kebutuhan dan keahlian saya yang sekarang.

Kriteria Laptop Yang Saya Butuhkan

Storage

Kapasitas bawaan penyimpanan hardisk harus besar, mengingat saya perlu menginstall banyak software dan menyimpan berbagai jenis file serta mentahan yang saya gunakan dalam pekerjaan saya, dan saya tidak mau menambah budget hanya untuk upgrade hardisk.

Desain Grafis

File-file mentahan atau aset-aset yang kecil sangat banyak. Aset yang dimaksud bisa berupa objek gambar, icon, font, hiasan ornamen, dll. Memang saat ini bisa menggunakan cloud atau semacamnya akan tetapi kapasitas yang lebih besar butuh biaya langganan. Selain itu, ketika saya mengikuti turnamen logo, setiap logo yang saya submit setidaknya harus 2 file, 1 file jadi dalam bentuk JPG dan 1 file mentahan dalam bentuk vektor seperti .EPS, atau .Ai. FYI saya sudah mengikuti lebih dari 500 turnamen.

Website Developing dan Coding

Satu website standar saja membutuhkan file kurang lebih sekitar 10 ribu file, termasuk script (php, html, JavaScript, css), gambar/foto, serta ornamen desain dalam bentuk gambar. Saya butuh menyimpan semua website secara offline karena bila sewaktu-waktu website versi online eror, kena malware atau hack, saya masih punya versi lain yang masih bersih di Hardisk. Selain itu file-file dari aplikasi android juga tak kalah banyak, android studio merupakan software yang tidak ringan dan cukup memakan banyak storage.

Video Editing

Yang ini jelas butuh besar, karena file-file mentahan atau file hasil rendering memang besar-besar, belum lagi jika ingin mendapatkan hasil video 60fps, video ber-resolusi besar atau video berkualitas 4k.

Storage Technology

Teknologi hardisk harus yang paling baru dan paling cepat, untuk saat ini teknologi hardisk tercepat adalah SSD NVMe M.2 melalui jalur PCIe, jadi bukan SATA seperti jalur hardisk lama. Dengan SSD pekerjaan copy paste file bisa lebih cepat, bahkan proses menyimpan bisa lebih cepat. Seperti ketika saya hendak mengkopi seluruh file website ke folder lain yang jumlahnya ribuan, bisa lebih cepat dengan SSD.

Website Developing dan Coding

SSD saya lebih memerlukannya ketika saya hendak menguji atau membuat copy-an sebuah website, dengan cara saya akan mengcopy seluruh file website ke folder localhost yang mana nantinya akan saya gunakan XAMPP untuk menjalankannya secara offline melalui browser. Hal ini sangat bermanfaat ketika saya ingin menguji script yang baru saya buat, sebelum saya publish secara online. Kebayang kan mengcopy ribuan file, jika masih menggunakan hardisk, bisa-bisa ngopy file sampe nobita masuk SMA.

Untuk pengerjaan coding di android studio, kemampuan hardisk sangat diperlukan karena saat kita memodifikasi salah satu code, secara otomatis semua file-file lain menyesuaikan atau berubah dengan sendirinya sekaligus, dan jumlahnya ratusan. Dengan kata lain, itu sama saja dengan proses copy paste.

RAM

RAM bawaan harus besar minimal 8gb agar saya tidak upgrade terlalu banyak untuk RAM, jika memungkinkan SLOT RAM harus minimal 2 slot. Semakin tinggi RAM akan semakin baik, karena meringankan pekerjaan hardisk, prosesor dan kartu grafis, semakin tinggi ram, juga berpengaruh pada panas laptop saat melakukan pekerjaan berat, karena beban RAM tidak ditanggung oleh komponen lain.

Desain Grafis

Software desain grafis membutuhkan RAM yang besar, selain pada saat pengoperasiannya, proses yang membutuhkan RAM besar ada pada saat membuka file-file atau menyimpan file. Berbeda dari vektor yang bisa disimpan dalam ukuran yang kecil dan relatif lebih ringan untuk dibuka. Kalau file-file PSD, TIFF atau file-file photoshop lain lebih besar sehingga membutuhkan RAM yang besar pula. File TIFF bisa mencapai 250MB, butuh 7 purnama untuk dibuka jika masih pakai RAM 4GB.

Website Developing dan Coding

Dalam website developing, kapasitas RAM sangat diperlukan mengingat sering mengerjakan website secara localhost atau offline, dan pemrosesan di dalam localhost itu memerlukan RAM yang mumpuni, semakin tinggi RAM maka akselerasi dalam website juga makin cepat. Saya pernah menunggu proses kompresi (pemampatan ukuran file) gambar via website yang tak kunjung selesai, bahkan sampai ulang beberapa kali lantaran “request time out” yang artinya pemrosesan kelewatan, keterlaluan, atau “Ter.. lha.. Lhu”, lamuaaaaa. Saking lamanya, windows jadi ketiduran, pas saya bangunin dia amnesia dan suruh ulang lagi, seolah bilang “bang udah bang” kan zwebel.

Video Editing

Meskipun saya baru di dunia editing video tapi saya sudah merasakan begitu syuliiiiit lupakan reyhan, eh apa sih, begitu lamanya edit video dengan RAM 4GB, sedikit-sedikit loading atau buffer, bahkan pencet salah satu toolsnya aja kadang-kadang loading. Tak hanya itu, sering kali force close atau tiba-tiba nutup sendiri.

Screen Size

Layar harus yang lebar minimal 15” karena semakin besar layar, maka pekerjaan saya akan lebih mudah dan nyaman, karena saya pernah pakai layar 10” hingga 14” dan itu membuat mata saya kering dan cepat lelah karena tidak banyak pergerakan di bola mata.

Desain Grafis

Saat membuat gambar atau edit foto desain grafis saya sering menggunakan fitur zoom dan free hand hanya untuk melihat salah satu bagian objek lebih dekat, hal ini karena layar saya masih 14”, dan ketika mencoba pakai monitor tambahan 24 inch, pekerjaan zoom in dan free hand berkurang dan membuat saya lebih cepat dalam menyelesaikan pekerjaan. Lagipula kita bisa split layar agar bisa dengan mudah mendengarkan spotify atau youtube sambil membuat gambar.

Website Developing dan Coding

Ketika saya mengerjakan code website, seringkali layar 14” tidak cukup untuk memuat code secara utuh, jadi code nya bersambung di baris di bawahnya, karena deretan code sangat banyak, terkadang itu menyulitkan saya untuk lebih teliti dalam memeriksa code. Jika ukuran screen editor codenya saya kecilkan, otomatis font juga kecil dan makin sulit terlihat. 15” adalah ukuran yang paling tepat untuk seorang web developer. Bahkan seringkali seorang coder membutuhkan layar besar untuk di split, sebagian coder menggunakan dual monitor, untuk membagi layar antara full screen code dan tampilan jadi, sehinnga ketika di save codenya, perubahannya akan langsung terlihat.

Video Editing

Dalam video editing diperlukan layar besar, karena kita harus bisa melihat dengan jelas timeline dan juga hasil dari video yang telah di edit, nah time line ini jika ukuran layar kecil maka akan semakin sulit kita melihat detail menit dan detiknya, bahkan bila perlu nempelin kornea ke layar biar lebih jelas. Banyak video editor profesional menggunakan layar lebih dari satu dalam proses editing video, mungkin alasannya adalah seperti itu.

Koneksi

Koneksi wifi yang punya teknologi tercepat mutlak saya perlukan karena aset video yang terkadang saya pakai dalam video editing butuh kecepatan download. Pun demikian ketika proses upload file-file website, butuh kecepatan upload yang baik, karena saya pernah dengan teknologi Wifi jadul bisa butuh berjam-jam untuk proses upload ke server.

Touchscreen

Saat ini saya memerlukan sebuah laptop yang bisa saya pakai untuk menggambar langsung di software desain. Selama ini prosesnya manual, lebih panjang dan ribet, pertama saya gambar di atas kertas, kemudian saya foto dan foto saya upload ke cloud dan saya buka pakai software grafis. Setelah itu pakai pen tool dan tinggal ikuti saja bentuknya. Ribet dan perlu beberapa kali pemrosesan. Bila memaksakan diri, bisa pakai mouse tapi tidak sesuai harapan karena sangat sulit untuk menggerakkan mouse membentuk garis yang kita inginkan. Dan saya tidak mau depresi hanya karena bikin gambar pakai mouse.

j

Stylus

Seperti yang saya sebut sebelumnya bahwa saya ingin laptop touchscreen sehingga saya bisa langsung menggambar di software grafis. Nah penting juga untuk laptop saya ini bisa mendukung penggunaan stylus. Dukungan stylus yang dimaksud adalah touchscreen yang telah mendukung berbagai fungsi khusus dari stylus seperti goresan lebih tebal jika sedikit ditekan dan sebaliknya akan menghasilkan goresan tipis bila digoreskan secara ringan. Jika ada laptop yang sudah include dengan stylus saya akan merasa bahagia.

Harga

Harga di sini tidak harus murah namun juga tidak “overpriced”, namun harus “worth it” dengan budget yang besar harusnya kualitas dan fungsinya melebihi ekspektasi.

Ringan Namun Kokoh

Kebanyakan orang yang bekerja di depan laptop mudah sekali bosan, bagaimana tidak, mereka harus di depan layar secara terus menerus selama berjam-jam. Dan kalau sudah bosan, biasanya suka buntu, seperti kehilangan kreativitas. Nah, untuk menjaga performa mood selalu baik, maka perlu sekali mengatasi kebosanan, dan salah satu caranya adalah berpindah tempat kerja dari ruang kerja ke dapur, terus pindah lagi ke kamar mandi. Ngga lah, maksudnya bisa pindah ke tempat ngopi atau ke tongkrongan yang oke buat kerja, sekalian healing. Nah, karena itulah laptop yang ringan dibutuhkan, selain itu harus kuat terhadap benturan sehari-hari, karena keluar masuk tas.

Metode Pencarian

Setelah saya tentukan kebutuhan pokok saya terhadap laptop yang menjadi incaran, selanjutnya adalah pencarian. Dalam pencarian saya, saya menggunakan beberapa langkah dan tahapan, pertama setelah saya bisa mengidentifikasi kebutuhan saya seperti di atas, saya melakukan pencarian dengan mencarinya di google. Mengingat saya adalah seorang SEO Specialist jadi saya tau cara mendapatkan kata kunci yang tepat untuk produk yang tepat.

  • Pertama saya tentukan dulu fitur yang paling esensial dari kebutuhan di atas, dalam pencarian ini saya gunakan kata kunci “Touchscreen Laptop” sebagai fitur paling penting. Kemudian cari dengan kata kunci “Best Laptop Touchscreen 2023”, lalu saya buka semua website berbahasa Inggris yang ada di TOP 10 hasil pencarian. Agar saya tahu gambaran perkembangan sekaligus keadaan pasar global seperti apa.
  • Kemudian dari daftar yang ada di masing-masing website yang saya buka, saya catat “Brand” yang paling sering muncul. Hal ini dilakukan untuk membuat semacam random sampling, skala global, mana brand yang paling sering muncul sebagai rekomendasi para pemerhati laptop, jika sering muncul dan di ulas, maka bisa dipastikan Brand Laptop tersebut punya reputasi yang bagus.
  • Kemudian setelah ketemu brandnya, dalam pencarian saya, saya menemukan Brand LENOVO. Lalu saya cari di google lagi dengan kata kunci “Lenovo touchscreen” agar mendapatkan hasil berbagai seri laptop Lenovo yang menggunakan touchscreen. Ini bertujuan untuk melihat seri Lenovo apa saja yang ada fitur Touchscreen.
  • Setelah itu langsung menuju ke marketplace favorit, dan cari satu persatu seri dari Lenovo Touchscreen yang saya temukan. Ini bertujuan untuk memilah mana laptop yang sudah masuk pasar Indonesia, mengingat website yang saya gunakan sebagai basis data adalah berbahasa Inggris yang berskala global. Bersamaan dengan itu saya juga melihat jumlah unit yang terjual dan baca review para pembeli.
  • Setelah cukup mantap, hal terakhir yang saya lakukan dalam pencarian ini adalah mencarinya di youtube, untuk melihat bagaimana feelnya, unboxing atau test-test realnya. Kadang saya tambahkan kata kunci seperti “gaming test”, “touchscreen test”, “unboxing”, “benchmark test”.

Laptop Terbaik Yang Saya Temukan

Lenovo YogaBook 9i

Seperti yang sempat saya bahas di atas, akhirnya saya menemukan Brand LENOVO dan dari proses yang saya lakukan, ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan spesifik yang juga sudah saya jelaskan, saya tertarik dengan Lenovo Yoga Book 9i. Sepertinya inilah laptop yang saya cari selama ini yang bakalan mampu mengcover semua pekerjaan saya dengan sempurna.

Sesempurna apa sih laptop ini untuk mendukung pekerjaan saya, baik akan kita pecahkan sesuai dengan kebutuhan spesifik yang telah saya sampaikan di atas.

Storage Capacity

Kapasitas hardsik bawaan Lenovo YogaBook 9i adalah 1TB, hal ini tentu lebih dari cukup untuk menyimpan semua file saya, baik itu aset-aset hingga mentahan video yang berukuran besar-besar.

Touchscreen

Kedua layar dari Lenovo YogaBook 9i merupakan layar touch screen dengan teknologi OLED 2.8k yang artinya lebih dari layar full HD. Keduanya dilindungi oleh Corning Gorilla Glass 3 jadi aman dari goresan, sekali lagi lebih dari ekspektasi saya.

Storage Technology

Teknologi SSD dari Lenovo YogaBook 9i menggunakan jalur PCIe NVMe M.2 sehingga kecepatannya sudah bisa dipastikan yang paling kencang.
j

Stylus

Kapabilitas penggunaan stylus sangat didukung lantaran pada paket pembelian Lenovo YogaBook 9i kita akan mendapatkan pensil stylus Lenovo Digital Pen 3. LEnovo Digital Pen 3 memiliki 4096 Pressure level, Mendukung protokol Wacom AES 2.0 dan Universal Stylus Initiative 1.0. Selain itu, pensil digital ini menggunakan baterai AAAA dengan ketahanan baterai hingga 1000 jam. 

RAM

RAM sudah 16GB LPDDR5X 6400MHZ Dual Chanel 128bit. LPDDR5X adalah sebutan untuk DDR5 yang dilengkapi dengan fitur LP (Low Power) dengan kata lain RAM ini irit daya, hal yang tentu saja melebihi ekspektasi saya. Dual channel yang berarti 8GB setiap channel membuat RAM akan lebih maksimal karena beban dibagi menjadi 2.

Ringan dan Kokoh

Berbahan Aerospace-Grade Aluminium yang dibentuk menggunakan CNC machine sehingga lebih ringan namun kokoh dibandingkan dengan bahan aluminium lain. Bagaimana tidak ringan berat utama laptopnya adalah 1.34kg, dan bila semua perangkat dibawa bersamaan hanya 1.99kg.

Connection

Untuk koneksi Wifi sudah menggunakan teknologi Wifi terbaru yakni Wifi 6E yang juga merupakan teknologi Wifi paling kencang. Selain itu, bluetooth juga menggunakan 5.2 sehingga akselerasi gawai yang menggunakan bluetooth juga anti delay.

Harga

Untuk harganya, saya temukan yang paling rendah di marketplace adalah sekitar 35 juta, mahal ? jellllassss, tapi seperti yang saya bilang di atas, laptop yang saya butuhkan tidak harus murah, mahal masih oke selama itu sesuai dengan fitur atau kualitasnya, dan ini menurut saya sesuai sehingga tidak overpriced.

Lenovo YogaBook 9i

Beyond Expectations

Ternyata Lenovo YogaBook 9i mempunyai keunggulan lain yang melebihi ekspektasi saya.

Kelebihan Lain Yang Melebihi Ekspektasi

Processor

Prosesor nya ternyata menggunakan intel i7 generasi ke-13 dengan 10-Core, 12-Thread. Detail dari Corenya sendiri adalah 8 E-Core, dan 2 P-Core. Artinya prosesor mampu membagi kapan saat memaksimalkan Performance (P-Core) dan kapan harus Efficient (E-Core).

Bluetooth Keyboard

Ya, dalam paket pembelian anda akan mendapatkan bluetooth keyboard Yoga Book 9 dengan USB Type-C charging.

Convertible Laptop (2 in 1)

Lenovo YogaBook 9i merupakan jenis laptop 2 in 1 yang convertible, sehingga kita bisa menggunakannya sebagai tablet dengan memutar engsel 360 derajat.

Sertifikat EVO

Sertifikat ini merupakan sertifikat dari intel untuk gawai yang menggunakan intel dan Low Energy, dengan kata lain, kehematan dayanya tidak diragukan lagi, dengan demikian penggunaan baterai dengan sekali cas bisa bertahan lebih lama.

Sertifikat TUV Rheinland

Sertifikat TUV Rheinland adalah sertifikat atas berbagai pengujian kualitas hingga keamanan, dari proses produksi hingga sistem manajemen dan kompetensi personel. Nah, untuk Laptop YogaBook 9i ini TUV Rheinland diberikan atas keamanan penggunaan cahaya biru atau Low Blue Light yang membuat mata aman bila menggunakannya dalam jangka waktu yang lama.

Sensor Biometrik

Sensor Biometrik adalah fitur sensor yang mampu mengenali wajah, jadi kita bisa membuka lock screen windows dengan pengenalan wajah.

Speaker

Ini termasuk yang tidak saya duga, karena, speaker dari Lenovo YogaBook 9i ini memanfaatkan ruang diantara kedua layar yakni di bagian engselnya, jadi mau layarnya diputar bagaimanapun speaker tidak bisa tertutupi. Selain 2 speaker di bagian engsel, speaker juga ada di samping kanan dan kiri, jadi total ada 4.

Mic Audio

Tidak ada penjelasan tentang noise cancelling, tapi uniknya ketika merekam menggunakan mic bawaan, suara di sekitar bisa diminimalisir sehingga suara kita lebih keras dan jelas.

Camera

Camera yang tertanam pada atas layar, mempunyai resolusi 2560 x 1440p sehingga akan menjadi laptop dengan camera yang paling jelas yang pernah saya tau, karena biasanya hanya 720p.

Sistem Pendingin

Sistem pendingin juga ternyata juga mengejutkan, dengan laptop yang kecil ternyata menggunakan 2 buah kipas dan 2 buah heat pipe,dengan 5 buah lubang pembuangan panas.

Daya Tahan Baterai

Dalam salah satu review yang saya lihat di youtube, daya tahan baterainya bisa mencapai 10 jam dengan tingkat kecerahan nyaris maksimal dan kedua layar on. Luar Biasa.

Garansi / After Sales

  • 3 Tahun Premium Care
  • Accidental Dagamge Protection yaitu klaim garansi akibat : Ketumpahan cairan, Jatuh dari meja, Keretakan pada panel LCD, Keyboard mati, Korsleting listrik. Ditanggung 100% selama 3 tahun dan dapat di klaim lebih dari sekali, dan untuk spare part yang sama ditanggung maksimal 2 kali.
  • Layanan SErvice Call 24/7
  • Layanan perbaikan di tempat

Melihat bagaimana kelebihan lain bisa melebihi ekspektasi saya yang notabene adalah seorang praktisi di dunia digital, saya menganggap Lenovo Yoga Book 9i ini adalah sebuah masterpiece karya Lenovo. Saya yakin bahwa fitur dan desain Lenovo Yoga Book 9i ini adalah salah satu perwujudan dari Inovasi Lenovo yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Tak hanya itu service center Lenovo Indonesia yang telah tersebar di seluruh negeri, membuktikan bahwa Lenovo Indonesia benar-benar memperhatikan pelayanannya. Sehingga memudahkan kita sebagai konsumen untuk klaim garansi atau service dengan kualitas terjamin. Angkat topi dan jempol untuk LENOVO!!

Kesimpulan

Dari seorang bocah yang hanya hobi coret-coret di sampul buku, kemudian berubah membuat pixel art dari ponsel, hingga menjadi seorang desainer grafis, web developer dan SEO specialist bukanlah perjalanan yang mudah untuk ditebak, apalagi tanpa background keluarga yang kaya dan pendidikan yang sesuai. Tapi itulah kehidupan, seorang lulusan SMK Jurusan Kimia bisa saja menjadi seorang freelancer pembuatan website, tanpa pendidikan formal yang mendukung, hanya dengan otodidak, benar-benar di luar nurul.

Perjalanan cinta saya tidak pernah sederhana, eh maksudnya perjalanan pekerjaan saya tidak pernah sederhana, tanpa sadar saya telah mengalami beberapa kali evolusi, beberapa kali sanggup membebaskan kemungkinan yang pada dasarnya memang tak pernah terbatas. Kemampuan untuk bersabar dalam proses belajar, terus menerus berkarya dan selalu melepaskan segala kemungkinan, menjadi kunci saya untuk sampai pada titik ini. Percaya atau tidak, entah kebetulan atau bagaimana, Lenovo mempunyai slogan yang pada dasarnya cocok dengan perjalanan kehidupan saya.

 

“Unleash Limitless Possibilities”

 

Saya selalu mengatakan kalimat sederhana ini pada diri sendiri ketika hendak mempelajari sesuatu, “siapa tahu ini berhasil”, “siapa tau ini jalan hidupmu”, “siapa tahu kamu akan membuat karya yang hebat dengan ini”. Ya “siapa tahu” kata yang powerfull dan menggambarkan bahwa saya selalu melepaskan segala kemungkinan yang tidak terbatas dari keterampilan baru yang sedang atau akan saya pelajari.

Saat ini setelah saya mempelajari Lenovo YogaBook 9i saya jadi bilang pada diri sendiri juga, “siapa tau laptop ini bisa kebeli”, “siapa tau dengan memakainya saya akan menghasilkan karya yang lebih hebat!”

 

“Everything Is Possible, challenge your limits!”